Selasa, 13 Mei 2008

Wabah Cikungunya Kembali Menyerang Bogor

Sumber: Bogoronline.com, 13.05.2008

74 Warga Jadi Korban

BOGOR - Kota Bogor kembali diserang wabah cikungunya, kali ini 74 orang warga Kampung Muara RW 11 Kelurahan Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat telah menjadi korban akibat wabah tersebut. Meski telah menyerang puluhan warga, namun Dinas Kesehatan Kota Bogor belum juga memberikan bantuan pengobatan terhadap para korban.

Omah (42), salah seorang warga yang telah menjadi korban cikungunya menuturkan, dirinya hingga saat ini belum mendapatkan bantuan pengobatan gratis dari pemerintah. Padahal dirinya sudah berobat ke Puskesmas sejak 3 hari yang lalu. "Saya hanya berobat ke Puskesmas saja. Hingga saat ini saya belum mendapatkan bantuan pengobatan dari pihak manapun juga, termasuk dari pemerintah," ujarnya pada bogorOnline, Selasa (13/5) di kediamannya.

Sementara itu, Hesti (16), warga yang telah menjadi korban cikungunya lainnya mengungkapkan, dirinya merasa lemas dan selalu pusing setelah mengalami bintik-bintik merah diseluruh tubuhnya. "Sebenarnya saya tidak percaya kalau telah terjangkit penyakit cikungunya, karena sebelumnya saya biasa-biasanya," ungkapnya.

Perihal jumlah korban yang mencapai 74 orang tersebut diakui oleh Sopiah, Ketua Pos Yandu RW 11 Kampung Muara Keluarahan Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat. "Warga yang terjangkit cikungunya ini pertamanya hanya 60 orang saja yang terdata di Pos Yandu, namun setelah 2 hari kemarin, data tersebut bertambah 14 orang, sehingga kini semuanya berjumlah 74 orang," tandasnya. (apg)-.

Kembali ke Bogorku.

Smart Card Bogor Dijamin Beda

Sumber: Radar Bogor, 13-05-2008


KAPTEN MUSLIHAT — Rencana penggunaan smart card sudah tak dapat ditawar lagi. Apalagi, pemerintah pusat mengultimatum baru akan memberikan hibah jika pemkot berjanji mengubah manajemen Trans Pakuan (TP) dengan menggunakan smart card. Hasil pembahasan dengan Komisi B ketika berkunjung ke kantor Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT) menegaskan, penggunaan smart card di Kota Bogor akan berbeda seperti yang diberlakukan Trans Jakarta maupun Trans Jogja.

Menurut Anggota Komisi B Mufthi Faoqi, sistem smart card yang digunakan di Kota Bogor nanti menyadur sistem yang digunakan di Singapura. Yakni smart card digunakan di pintu masuk TP. Alasannya, lebih menghemat jumlah tenaga kerja. “Kalau di Jogjakarta kan kartunya ada dan digunakan di tiap shelter. Makanya mereka membutuhkan banyak pekerja yang diposisikan di shelter,” katanya. Nantinya, pintu bus baru akan terbuka jika kita menggesek smart card.

Ia yakin warga Bogor sanggup dan layak membayar dengan sistem smart card ini. “Ini tingal bagaimana kita membiasakan diri dan belajar disiplin,” ujar Ketua Fraksi Partai Demokrat. Apalagi, era globalisasi ini sistem alat tukar mulai berubah tak lagi dalam bentuk uang melainkan kartu.

Selanjutnya, penjualan smart card tak ubahnya teknis penjualan pulsa. Harganya pun beragam mulai dari Rp15 ribu untuk beberapa kali naik TP. Tapi kalau habis kartunya tidak dibuang melainkan diisi ulang. Mengingat pembuatan kartu khusus tersebut terbilang mahal. “Jadi ada pihak ketiga yang membantu menjual smart card,” kata Oqi-sapaan akrabnya. Berapa jumlah persen yang didapat pihak ketiga, ia mengaku belum ada pembicaraan lebih jauh.

Meski begitu, PDJT masih menjual single trip atau karcis sekali naik. “Teknisnya bisa juga harganya lebih mahal sedikit ketimbang kalau kita punya smart card,” tandasnya.

Nantinya, smart card harus terkoneksi dengan jaringan internet yang bisa terbaca atau link dengan PDJT. “Jadi dalam hitungan detik mereka (PDJT) tahu jumlah penumpang yang ada,” katanya. Kapan pelaksanaannya, ia memastikan tahun ini. Sebab anggaran penggunaan smart card hingga pelelangan sistemnya Rp1,8 miliar sudah masuk APBD 2008.

Mengingat pementah pusat berencana menaikkan harga BBM, Anggota Komisi B Suherman tak memungkiri adanya kenaikan tarif TP. “Itu konsekuensi,” tandasnya. Makanya, PDJT perlu mengimbangi dengan kenyamanan dan pelayanan yang memuaskan. (rtn)

Kembali ke Bogorku.

Senin, 12 Mei 2008

Truk Maut Dievakuasi, Korban masih Shock

Sumber: Radar Bogor, 12-05-2008 03:13 WIB

BOGOR - Truk naas bernopol B 9054 SI yang menewaskan satu orang dan melukai tujuh orang di Jalan Raya Cagak Kampung Panyaungan Desa Kalong I Kecamatan Leuwisadeng, akhirnya dievakuasi petugas dari Lakalantas Polres Bogor, kemarin. Truk tersebut kemudian dibawa ke Pos Lakalantas Leuwiliang sebagai barang bukti.

Sedangkan korban meninggal Enday Hidayat (20) langsung dimakamkan oleh keluarganya. Lima korban lain yang dirawat juga sudah diperbolehkan pulang. Khusus dua korban yang patah tulang masih dirawat intensif di RS PMI Bogor. Sebelumnya, korban dirawat sementara di RSUD Leuwiliang.

Salah seorang warga sekitar Aray (34) menuturkan, setelah kejadian itu polisi langsung mengevakuasi truk bernopol B 9054 SI dengan mendereknya. Beberapa warga juga sudah diperbolehkan pulang. Namun, masih ada korban yang dirawat di Rumah Sakit PMI Bogor. “TKP masih ramai, bahkan sekarang warga sedang membersihkan puing-puing reruntuhan,” ujarnya.

Beberapa korban terlihat masih shock. Seperti yang dialami keluarga Lenah (10), korban yang tertimbun reruntuhan. Untuk sementara, Lenah tinggal di tetangga sekitar sampai rumahnya diperbaiki.

Kapolsek Leuwiliang AKP Riyanto mengatakan, peristiwa naas yang menewaskan satu warga itu sudah dilimpahkan ke Polres Bogor. “Setelah kejadian, kita langsung melapor ke Polres Bogor. Sekarang Polres Bogor masih melakukan penyelidikan terkait peristiwa yang terjadi Sabtu (10/5),” terangnya.

Ketika ditanya kernet yang melarikan diri, Riyanto enggan menyebutkan. Alasannya kasus tersebut sedang ditangani polres. Informasi yang diperoleh, kernet yang melarikan diri dan belum diketahui identitasnya ini sudah diamankan dan kini sedang ditangani Polres Bogor.(dkw)

Kembali ke Bogorku.