IR H JUANDA - Wabah flu burung yang pada Mei ini kembali mengancam tetap menjadi momok menakutkan. Tak hanya bagi masyarakat, tapi juga rumah sakit di Kota Bogor. Menurut Kasi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan dr Eddy Darma, dari delapan rumah sakit di Kota Bogor semuanya menolak pasien suspect flu burung. Adapun RS PMI tapi hanya menjadi tempat transit.
Selanjutnya, pasien harus segera dipindahkan ke rumah sakit lain. Sebut saja, Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung dan RS Persahabatan.
Eddy memakluminya. Sebab, delapan rumah sakit swasta di Kota Hujan ini belum memiliki standar ruang pelayanan khusus pasien flu burung. Saat ini RS PMI tengah membangun ruang transit khusus pasien suspect flu burung. Ke depan, pihaknya mengupayakan RS Marzoeki Mahdi untuk membuat ruang perawatan.
Menurut dia, ada tiga lapisan khusus untuk ruang pelayanan kasus pasien terdiagnosis tertular virus H5N1. Ruang pertama untuk menerima tamu, ruang kedua untuk transit dan ruang ketiga untuk perawatan.
“Di ruang tiga yang boleh masuk hanya petugas tetap. Itu pun harus menggunakan ultraviolet untuk mematikan kuman. Semua ruangan itu, bukan untuk mengamankan pasien tetapi orang sehat agar tidak tertular," ujarnya.
Kendati rumah sakit di Kota Hujan ini belum memiliki standar ruangan yang di-setting untuk menangani penyakit menular, segala upaya harus segera dilakukan. Sebab, membawa pasien suspect flu burung bukan perkara mudah.
Kasus yang sering ditemui di rumah sakit kota sendiri diminta pergi, di rumah sakit yang bisa menangani ditolak karena keterbatasan ruangan. Sekadar mengetahui, RS Hasan Sadikin hanya memiliki enam tempat tidur khusus untuk penyakit dengan kasus suspect flu burung.
“Ambulans yang membawa pasien suspect flu burung pun khusus. Menghubungi 911 yang jumlahnya terbatas. Kini Dinkes sudah memiliki ambulans khusus pasien yang masuk kategori suspect dari virus H5N1 ini,” kata ayah dua anak ini.
Ia pribadi pernah menunggu delapan jam hingga ambulans dari Jakarta itu datang ke Bogor untuk menjemput pasien. “Waktu itu saya menunggu bersama camat Bogor Tengah. Ambulans baru datang pukul 03:00 WIB,” kata Eddy.
Jika ada masyarakat di lingkungan terkena suspect flu burung, berlaku potong birokrasi. Mengapa? Karena, lanjut dia, rentang masa krisis pun hanya sepuluh hari. Berarti, kesempatan melakukan perawatan sangat pendek. “Kalau menggunakan sistem rujukan akan membutuhkan waktu lama sampai mendapat perawatan di rumah sakit,” katanya. Pasien kasus suspect flu burung tak perlu khawatir soal biaya. “Semua biaya gratis. Asalkan benar yang bersangkutan terdiagnosa flu burung,” ujarnya.
Jadi, sambung dia, jika ada warga yang diduga suspect flu burung, Eddy mengimbau segera menghubunginya. “Tugas saya bukan merawat, tapi memindahkan pasien tersebut ke rumah sakit yang mau menerima dan mampu menangani kasus flu burung,” tandasnya. (rtn)
Sabtu, 03 Mei 2008
Semua RS Tolak Pasien Flu Burung
Sumber: Radar Bogor, 03-05-2008 12:23 WIB
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar