Minggu, 04 Mei 2008

Awasi Siswa, Kadisdik Sebar Intel

Sumber: Radar  Bogor, 05-05-2008 08:02 WIB


BOGOR - Kalangan dewan mewanti-wanti pelaksanaan UN tingkat SMP. Sebab, ada ketidakpuasan pelaksanaan UN tingkat SMA beberapa waktu lalu.
Untuk itu, anggota Komisi D Fauzi Sutopo mengimbau pusat rayon tak perlu lagi memberikan sampul soal cadangan. Ini akan menimbulkan kesempatan bagi pihak yang tidak bertanggung jawab membuka sampul soal cadangan. Kemudian mengerjakan soal ujian dan menyebarkannya SMS ke murid.

Ke depan, dia juga meminta harus ada penyortiran lembar soal, sehingga lembar soal ke tiap rayon dalam kondisi bagus. "Seperti saat Pemilu, disortir dulu kertas suaranya," ujarnya.
Fauzi juga mendesak adanya keterbukaan Dinas Pendidikan (Disdik), baik petugas pemantau ujian atau Tim Pemantau Independen (TPI). "Memang dalam peraturan tidak boleh masuk kelas. Tapi, kami kan mengawasinya tidak masuk ke dalam kelas. Hanya melewati dan lihat dari kaca," jelasnya.

Fauzi lantas mempertanyakan fungsi TPI. Sebab, TPI juga tidak boleh masuk memantau pengawas. Padahal, fungsinya mengawasi pelaksanaan UN agar berkualitas. Apalagi, dia melihat aksi peserta membawa ponsel ke dalam ruang ujian. Fauzi tak memungkiri ini terjadi karena tak ada instruksi seragam dari Disdik pada tiap sekolah.

Mencegah kemungkinan lembar jawaban yang terselip, Fauzi mengimbau pengawas menginstruksikan peserta ujian menempatkan lembar soal dan lembar ujian di atas meja. Misalnya, peserta meletakkan lembar jawaban di sebelah kiri dan lembar jawaban di sebelah kanan meja. "Jadi, tidak ada kasus salah satu lembar jawaban peserta tak ada di rayon pusat, padahal terselip di kumpulan lembar soal," jelas Fauzi, seraya berharap, terciptanya sistem pengawasan pelaksanaan UN terpadu.

Sementara itu, Kadisdik memperketat siswa membawa handphone (HP). Maka dari itu, dia menyebar intel. “Saya sebar intel untuk memantau pelaksanaan UN. Dan, itu tidak akan diketahui sekolah mana pun,” kata Kadisdik Kota Bogor Bambang Gunawan kepada Radar Bogor, kemarin.

Dia menjelaskan, langkah ini tak lain untuk mencegah kabar tak sedap perihal dugaan kebocoran yang selalu disangkakan kepada pihak penyelenggara UN. Langkah ini bukan berarti untuk mengurangi kepercayaan TPI, panitia maupun pengawas lainnya. Namun sebatas pelengkap untuk memperkuat laporan yang dibutuhkan selama penyelenggaraan UN berlangsung.
Menurut dia, khusus peserta dan sesuai tata tertib yang berlaku tentu ada pelarangan. Salah satunya membawa HP ke dalam ruangan. Dia percaya dengan pengawasan ketat itulah, diharapkan tidak ada siswa yang membawa HP. Di luar pelaksanaan, dia mengimbau kepada siswa agar tak mempercayai SMS yang berkaitan dengan jawaban UN.

“Bisa saja saat istirahat tiba-tiba siswa dapat SMS jawaban. Saya harap jangan sepenuhnya percaya, karena takut SMS yang datang akan mengacaukan situasi dan kenyamanan siswa saat ikut ujian,” tuturnya.

Sedangkan Koordinator TPI Bibin Rubini menjelaskan, hingga sejauh ini belum ada pelanggaraan pihak penyelenggara. Bahkan, pendistribusian soal tahun ini lebih baik dibanding kegiatan sebelumnya.

Terkait pemantauan nanti, tugas TPI hanyalah sebatas memantau. Bilamana terjadi pelanggaran, itu hanya akan dituangkan dalam berita acara sebagai bentuk setiap pelanggaran yang terjadi. Entah adanya pembocoran soal maupun pelanggaran lain yang berkaitan dengan pelaksanaan UN.

“Intinya, dari mulai pendistribusian, pelaksanaan hingga pengiriman LJK, tim kami pasti memantau langsung,” pungkasnya (rtn/rev)

Kembali ke Home.

Tidak ada komentar: